Dokumentasi kegiatan Hansarang Cultural Camp, sumber: Tim Pubdok Hansarang Cultural Club
Palembang, lpmlimas.com – Komunitas Hansarang Club Palembang menggelar Hansarang Cutural Camp (HCC) di Museum Balaputra Dewa pada Senin (16/02) sebagai program yang berfokus pada pengenalan dan penguatan nilai-nilai budaya dan memberikan pengalaman pertukaran budaya melalui keterlibatan langsung antara peserta dan teman Korea sebagai penutur asli (native speaker).
Hansarang Cultural Camp merupakan bentuk inovasi dan pengembangan dari program Hansarang Goes to School (HSC GTS) dan Hansarang Goes to Campus (HSC GTC). Abel selaku penanggung jawab program tersebut, menjelaskan bahwa perbedaan utama HCC dibandingkan program sebelumnya terletak pada cakupan peserta dan konsep kegiatan.
“Jika GTS dan GTC menyasar pada siswa/siswi sekolah saja atau mahasiswa/mahasiswi saja, HCC dibuka untuk peserta yang lebih luas, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Kemudian, bentuk kegiatannya adalah diskusi kelompok sebagai ruang bertukar bahasa dan budaya antara Indonesia dan Korea, untuk lebih menonjolkan pertukaran budayanya,” ujar Abel.
Ia menambahkan, aktivitas utama dalam HCC adalah pertukaran bahasa dan budaya melalui komunikasi lewat percakapan langsung antara peserta dan teman Korea, tetapi dikemas dalam berbagai kegiatan kolaboratif seperti forum diskusi kelompok berbasis proyek yang disebut Cultural Mapping Challenge. Sehingga peserta dan teman Korea terlibat aktif dalam pertukaran budaya.
Selain itu,rangkaian kegiatan juga mencakup 4 Cultural Booth, Cultural Performance, Games, serta kegiatan interaktif lainnya. Abel menegaskan bahwa seluruh kegiatan dirancang agar pesan budaya dapat tersampaikan secara langsung kepada peserta.
“Kehadiran penutur asli Korea merupakan elemen penting dalam HCC, yang bertujuan untuk memperkuat esensi pertukaran budaya,” tutur Abel. Adanya kehadiran teman Korea memungkinkan peserta mendapat pengalaman yang lebih autentik sekaligus memperkenalkan komunitas Hansarang Club Palembang sebagai komunitas yang menghadirkan pertukaran budaya secara langsung.
Sementara itu, kegiatan ini direspons baik oleh peserta. Salah satu peserta, Rea, mengaku mengikuti Hansarang Cultural Camp karena ketertarikannya pada budaya Korea. Ia juga menyebut bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman pertamanya berinteraksi langsung dengan penutur asli korea.
“Saat berinteraksi langsung dengan mereka, aku dapat banyak pengalaman baru. Yang awalnya cuma tau budaya Korea dari yang sering muncul di drama Korea, tapi semenjak aku ikut Hansarang, Aku jadi tau banyak tentang budaya Korea lainnya,” ujar Rea.

Rea menambahkan, dari4 Cultural Booth yang ada, dirinya paling menyukai booth hanbok karena ini pertama kalinya ia merasakan mengenakan baju hanbok (pakaian tradisional Korea) tanpa harus pergi ke negaranya. Ia berharap kegiatan ini dapat tetap berlanjut dengan konsep yang lebih bagus kedepannya.
“Berdasarkan hasil evaluasi panitia, sebanyak 42 dari 64 peserta menyatakan puas hingga sangat puas terhadap kegiatan ini,” ungkap Abel.
Melalui Hansarang Cultural Camp, harapannya semoga dapat membuka perspektif dan wawasan yang lebih luas, serta memberikan dampak positif bagi peserta serta memperkuat hubungan antarbudaya Indonesia dan Korea.
Reporter: M. Sidiq Fathur Rahman
Penulis: M. Shidiq Fathur Rahman
Editor: Muhammad Raffi