Isu sensasional mengalahkan isu negara
Media sosial punya cara cepat untuk menjadi etalase utama dalam mengalihkan perhatian publik di Indonesia. Apa yang ramai dibicarakan dalam platform online sering kali dianggap sebagai isu paling penting pada hari itu. Namun, jika dicermati lebih jauh, perhatian tersebut justru kerap tersedot pada isu-isu sensasional seperti drama rumah tangga, perselingkuhan figur publik, hingga konflik personal, alih-alih pada isu negara yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Hal ini bukan sekadar soal selera publik, melainkan cerminan bagaimana pengalihan isu bekerja di ruang digital.
Beberapa bulan terakhir, publik disuguhi beberapa isu personal figur publik yang menyita perhatian. Kasus perselingkuhan Julia Prastini (Jule) yang disertai bukti chat dan foto, drama rumah tangga Pratama Arhan dan Azizah Salsha (Zize), hingga rumor perselingkuhan Ridwan Kamil dengan Aura Kasih menjadi konsumsi harian media sosial. Isu-isu ini dibumbui dengan narasi yang mengikat emosional dan mudah dipahami. Dalam hitungan jam bahkan hitungan menit, potongan video, tangkapan layar percakapan, hingga spekulasi publik tersebar luas dan membanjiri ruang platform digital.
Di saat yang sama, isu-isu negara yang bersifat struktural justru tenggelam. Bencana banjir yang melanda berbagai daerah, persoalan kebijakan publik, hingga dampak sosial-ekonomi yang menyentuh hajat hidup banyak orang sering kali kalah cepat. Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat Indonesia relatif mudah terdistraksi oleh isu di luar kepentingan negara. Bukan karena isu tersebut tidak penting, melainkan karena

Artikel dari @infobandung mengenai “kenapa gosip artis bisa viral secepat itu, bahkan bisa ngalahin berita penting soal kebijakan”
Sumber: Tangkapan layar dari akun Instagram @infobandungbarat
Pengalihan isu di media sosial tidak selalu berarti adanya skenario besar yang dirancang secara rapi. Dalam banyak kasus, pengalihan bekerja secara organik melalui mekanisme algoritma dan perilaku pengguna. Konten yang memancing emosional publik akan lebih sering dibagikan dan dikomentari. Isu teratas seperti drama, perselingkuhan, dan ketidaklaziman yang terjadi di ruang publik menyediakan semua elemen itu. Sebaliknya, isu kebijakan akan membutuhkan waktu, konteks, dan upaya berpikir yang lebih dalam untuk dipahami.

Sumber: Tangkapan layar dari akun Instagram @unikinfold
Fenomena tersebut tampak dalam kasus tumbler yang hilang di Kereta Api Indonesia (KAI). Isu yang bermula dari unggahan personal ini berkembang menjadi perdebatan nasional di media sosial, lengkap dengan argumen dari berbagai pihak, klarifikasi, hingga permintaan maaf publik. Dalam waktu singkat, percakapan tentang tumbler tersebut mendominasi platform seperti X, TikTok, dan Instagram, bahkan menggeser pembahasan mengenai banjir yang melanda sejumlah wilayah pada periode yang sama. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana isu kecil yang sarat emosi dapat mengalahkan isu negara yang seharusnya membutuhkan perhatian lebih besar.
Pola distraksi serupa juga tampak pada kasus rumah tangga figur publik. Drama perpisahan Pratama Arhan dan Azizah Salsha (Zize) menjadi salah satu topik yang paling menyita perhatian publik dalam waktu lama. Netizen kemudian menduga-duga jika kehebohan ini bukan hanya sekadar kebetulan, melainkan berpikir bahwa pasti ada isu politik yang sedang ditutupi setiap kali ada drama dalam rumah tangga mereka. Tirto bahkan menyoroti dua isu besar yang menghebohkan jagat maya pada 25 Agustus 2025 yaitu, demonstrasi pada DPR RI dan berita perceraian Arhan–Azizah. Suara.com menegaskan, netizen merasa drama perceraian ini mendominasi pemberitaan hingga mengalihkan fokus dari isu kenaikan tunjangan DPR. Begitu pula saat isu rujuk mereka muncul awal September, persis di puncak kericuhan demonstrasi nasional. Hal inilah yang bagi sebagian pengamat menjadi contoh jelas dalam pengalihan isu negara.

Artikel tirto.id mengenai dua isu besar 25 Agustus.Sumber: https://tirto.id/putusan-cerai-arhan-azizah-bersamaan-demo-25-agustus-di-dpr-ri-hgqu
Pada tahun 2025 juga sempat mencuat wacana tentang Pilkada yang dilakukan oleh DPRD. Banyak media massa yang meliput pro-kontra isu tersebut. Liputan6 melaporkan survei LSI pada 7 Januari 2026 yang menunjukkan 66,1% pemilih dari partai politik menolak pilkada DPRD.

Survei LSI
Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/6252436/survei-lsi-denny-ja-mayoritas-pemilih-partai-menolak-pilkada-dipilih-dprd?page=all#google_vignette
Ketika isu Pilkada DPRD ramai diperbincangkan akhir 2025, perhatian publik Indonesia justru banyak tersita oleh berita hiburan dan kontroversi artis dan selebriti. Berita-berita perceraian artis ternama seperti Deddy Corbuzier dan skandal hiburan lainnya justru mengisi headline media kehidupan selebriti. Pada Januari 2026, media hiburan juga ramai memberitakan isu kedekatan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan penyanyi Aura Kasih yang dikabarkan memiliki sebuah rumor cinta lokasi yang viral di media sosial. Editor News melaporkan “nama Aura Kasih kembali menjadi perbincangan publik” setelah isu tersebut merebak.

Akibatnya, diskusi serius tentang revisi Pilkada nyaris tenggelam di antara gempuran berita viral. Banyak pengamat media mencatat bahwa selama akhir 2025 sampai awal 2026, sorotan publik lebih banyak tertuju pada kisah artis dan sensasi hiburan daripada debat kebijakan politik.
Pergeseran perhatian ini lebih laris dibandingkan kejadian yang terjadi di panggung politik dan diplomasi. Pada Januari 2026 juga muncul sorotan diplomatik besar ketika Indonesia menerima undangan untuk bergabung dengan inisiatif perdamaian yang dimotori pemerintah Amerika Serikat atau yang dikenal “Board of Peace,” peristiwa semacam ini jelas berdampak pada posisi luar negeri Indonesia, tetapi pada saat yang sama perhatian publik di media sosial kerap didominasi oleh topik-topik hiburan dan skandal selebritis.

Hal lainnya terlihat pada kasus perselingkuhan Jule. Sejak isu tersebut mencuat, perhatian publik terus terjaga melalui alur sensasi yang berlapis seperti klarifikasi, bantahan dari Ibu Jule, kemunculan nama baru, hingga respons dari pihak-pihak terkait. Isu ini bertahan cukup lama di ruang publik, bukan karena urgensinya, melainkan karena kemampuannya memicu emosi dan rasa ingin tahu warganet.
Menariknya, ketika gelombang kecaman mulai mereda, Jule justru kembali mendapatkan panggung publik. Salah satu momen yang cukup disorot adalah kemunculannya dalam sesi streaming bersama Bigmo. Alih-alih meredup, kehadiran ini kembali menghidupkan perhatian publik, meski dalam bentuk yang berbeda. Kontroversi yang sempat menuai kecaman perlahan bergeser menjadi tontonan, bahkan hiburan. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana figur publik dapat kembali ke ruang publik tanpa proses refleksi atau pertanggungjawaban yang jelas.

Sumber: Tangkapan layar dari YouTube Niceguymo
Pola tersebut memperlihatkan lemahnya penerapan cancel culture di Indonesia. Figur yang sempat dikecam keras pada akhirnya kembali diterima, namanya kembali muncul di media, dan citra publiknya perlahan dipulihkan seiring memudarnya ingatan kolektif warganet. Ketika isu baru muncul, kontroversi lama pun terlupakan, dan siklus sensasi kembali berulang tanpa konsekuensi sosial yang berarti. Akibatnya, isu-isu tersebut dapat bertahan selama beberapa bulan, lalu perlahan menghilang. Ketika perhatian publik sudah beralih, figur yang sempat menjadi pusat kontroversi kembali diterima.
Situasi ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya membentuk apa yang kita bicarakan, tetapi juga apa yang kita terima. Ketika perhatian publik habis untuk drama personal, ruang pengawasan terhadap isu negara menyempit. Kebijakan penting luput dari diskusi kritis, bencana kehilangan empati berkelanjutan, dan tanggung jawab aktor publik menjadi kabur karena tertutup oleh riuh sensasi.
Namun, menyalahkan publik sepenuhnya juga tidak benar. Kejenuhan publik terhadap isu politik, ketidakpercayaan pada institusi, serta pengalaman bahwa suara publik seringkali tidak menghasilkan perubahan nyata membuat masyarakat mencari isu yang terasa lebih dekat dan menghibur. Isu sensasional menjadi pelarian dari kompleksitas persoalan negara yang dianggap rumit dan jauh dari keseharian.
Di sinilah peran media menjadi krusial. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai apa yang viral saja, tetapi juga sebagai penentu isu apa yang penting. Ketika media ikut larut mengejar klik dan traffic dari isu sensasional tanpa melihat sebuah konteks yang kritis, pengalihan isu semakin menguat. Isu negara akan kalah bersaing bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak dikemas dengan daya tarik yang setara.
Masyarakat perlu mulai bersikap lebih kritis dalam memilih isu apa yang layak mendapat perhatian. Tidak semua berita yang viral itu penting. Jika tidak disadari, kita akan terus terjebak dalam siklus sensasi yang sama, lalu mengulanginya lagi dengan isu berikutnya. Dalam situasi seperti itu, pengalihan isu bukan lagi strategi tersembunyi, melainkan kebiasaan yang tanpa sadar kita pelihara sendiri.
Penulis: Masayu Mesyah
Editor: M. Fajar Meydiansyah