Dokumentasi kegiatan Ruang Benah dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional di Kopi 16 Pro, Palembang, Minggu (26/07). Foto: Tim LPM Limas FISIP Unsri.
Palembang, lpmlimas.com – Komunitas Benah Palembang menggelar diskusi publik bertajuk “Ruang Benah #001” dengan tema “Mengenal Sungai, Menjaga Masa Depan Sungai Musi” dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional. Kegiatan yang berlangsung di Kopi 16 Pro, Palembang, Minggu (26/07), ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan Sungai Musi.
Ruang diskusi ini turut dihadiri 3 narasumber yang mewakili berbagai sudut pandang, mulai dari Mang Ifan yang hadir untuk memberikan sudut pandang sebagai masyarakat tepian Sungai Musi, kemudian Prof. Dr. Yuanita Windusari, S. Si., M. Si. yang merupakan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (Unsri), serta Prigi Arisandi selaku Founder Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) yang turut menghadiri secara jarak jauh melalui Zoom Meeting.
Namun, salah satu narasumber yang seharusnya ada untuk mewakili sudut pandang pemerintah daerah, Herdi Apriansyah, S. STP., M. M. selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Selatan, tak bisa menghadiri kegiatan tersebut di hari pelaksanaan karena sedang berhalangan.
Diskusi ini mengangkat permasalahan Sungai Musi, penyokong hidup bagi masyarakat tepian yang mulai tercemar. Mang Ifan yang mewakili keresahan masyarakat dalam forum tersebut, seperti maraknya limbah plastik maupun kimia yang mencemari lingkungan hidup warga.
Menanggapi hal tersebut, Prigi Arisandi yang pernah melaksanakan Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) bersama ECOTON pada berbagai sungai di Indonesia, menyatakan bahwa limbah yang terdapat di sungai tak hanya mengganggu kebersihan perairan saja. Hal tersebut juga berdampak dalam mutasi hormon ikan untuk menjadi interseks (memiliki dua karakteristik kelamin), yang menyebabkan sulitnya perkembangan biak pada biota yang hidup di lingkungan tercemar.
Selain itu, limbah plastik yang menghasilkan mikroplastik juga dapat mengontaminasi tubuh manusia, yang dapat menyebabkan penyakit kronis hingga kecacatan. ECOTON juga melakukan riset yang menemukan bahwa mikroplastik juga dapat ditemukan di dalam janin, menandakan bahwa tak hanya di Sungai Musi, seluruh lingkungan perairan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Yuanita, selaku narasumber yang mewakili sudut pandang akademisi bidang Kesehatan Lingkungan, menambahkan bahwa salah satu cara meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi lingkungan sendiri adalah dengan mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dan turut mengawasi pengelolaan limbah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) untuk meminimalisir pencemaran lingkungan.
Project Leader, Muhammad Ryan Pertama, menjelaskan bahwa kegiatan ini harusnya juga dilengkapi oleh pelaksanaan pengecekan kualitas air Sungai Musi. Namun, hal tersebut tak bisa dilaksanakan karena pihak DLH yang memiliki alat portabelnya, tidak bisa menghadiri rangkaian “Ruang Benah #001”.
“Kalau kita cuma ngobrol nggak langsung cek, pasti emang iya ada pertanyaan hal itu, kan? Kenapa kami berharap DLH itu bisa datang, ketika kita udah diskusi, ketika langsung cek ternyata kualitas air Musi itu dalam kondisi yang kurang baik. Ketika kita tahu, kita lebih timbul rasa ingin menjaga,” jelas Ryan.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi Wall of Commitment, yang merupakan pengumpulan harapan masyarakat Palembang terhadap Sungai Musi melalui kertas, ditempelkan di papan yang disediakan oleh Benah Palembang.

Menurut Ryan, pengadaan sesi ini dilakukan agar harapan yang dituliskan oleh para peserta diskusi, dapat melekat ke otak dan hati masing-masing individu yang membaca, baik itu secara langsung, atau melalui unggahan-unggahan media.
“Publikasi media kan dia juga harapannya bisa dilihat siapapun, entah itu pemangku kebijakan atau siapapun,” ucap Ryan.
Di sisi lain, Mutia Ramadhani, selaku peserta, berpendapat bahwa diskusi yang telah dilaksanakan telah memberikan berbagai pengetahuan baru bagi seluruh partisipan untuk lebih mengetahui dampak limbah, hingga pentingnya melestarikan lingkungan Sungai Musi.
“Diskusi yang dilaksanakan sudah bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman baru agar dapat meningkatkan rasa awareness terhadap masyarakat dalam menjaga Sungai Musi nya. Namun, karena manusia cenderung bersifat dinamis, bisa jadi saat ini mereka peduli, seiring berjalannya waktu bisa jadi mereka lengah. Sehingga perlu keberlangsungan lebih lanjut agar mereka dapat menanamkan hal itu untuk dirinya sendiri dan membagikannya ke orang lain,” ujar Mutia.
Reporter: M. Fajar Meydiansyah, Zaskia Nur Chairunisa
Penulis: M. Fajar Meydiansyah, Zaskia Nur Chairunisa
Editor: Ristina Amelia
Dokumentasi: M. Fajar Meydiansyah, Zaskia Nur Chairunisa