Hari Anak Nasional : Perjalanan di Tengah Keterbatasan
Palembang – Termos berisi es potong itu tampak begitu berat di tangan Adelia. Dengan langkah pelan, siswi kelas VII SMP Negeri 39 Palembang tersebut menyusuri taman kota, menghampiri setiap kerumunan yang ditemuinya. Di sela senyum malu-malu, ia menawarkan dagangan buatan keluarganya kepada orang-orang di tengah panasnya negeri saat ini.
Di tangan kirinya tergenggam sebuah dompet berwarna merah muda. Setiap lembar uang yang masuk ke dalam dompet itu bukan sekadar hasil jualan, melainkan harapan agar ia tetap bisa bersekolah esok hari.
Sore hari yang biasanya dihabiskan anak-anak seusianya untuk bermain atau mengerjakan pekerjaan rumah justru menjadi waktu berbeda bagi Adelia. Sesaat setelah pulang sekolah, ia langsung membawa termos berisi es potong dan berjalan mengelilingi taman kota. Panas matahari maupun lelah setelah mengikuti pelajaran di sekolah tidak menyurutkan langkahnya.
Dalam sehari, hasil penjualannya tidak pernah pasti. Terkadang ia membawa pulang sekitar Rp20.000, di hari lain bisa mencapai Rp50.000. Semua bergantung pada ramainya pengunjung dan seberapa jauh ia mampu berjalan menawarkan dagangannya.
Sebagian besar uang hasil penjualan itu diserahkan kepada orang tuanya untuk membantu kebutuhan keluarga. Sisanya menjadi bekal agar ia tetap memiliki uang jajan ketika berangkat ke sekolah keesokan harinya.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat Adelia untuk mengenyam pendidikan tidak pernah padam. Ia percaya sekolah adalah jalan yang dapat mengubah masa depan keluarganya.
“Kalau saya tidak berjualan, saya tidak punya uang jajan untuk sekolah besok,” ujarnya sambil menjajakan dagangan.
Kalimat sederhana itu menggambarkan kenyataan yang harus dijalani seorang anak berusia belasan tahun. Di saat teman-teman sebayanya menikmati waktu layaknya kebanyakan anak anak, Adelia justru harus memikul tanggung jawab membantu ekonomi keluarga.
Bagi Adelia, cita-cita bukan sekadar impian. Ia ingin terus bersekolah hingga berhasil memperbaiki kehidupan keluarganya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia juga memiliki harapan yang sangat sederhana.
Ia ingin dapat pulang sekolah lalu mengerjakan tugas seperti teman-temannya. Ia ingin memiliki waktu untuk bermain dan bercanda tanpa dibayangi kewajiban berjualan. Lebih dari itu, ia ingin menjalani hari-hari sebagai seorang pelajar tanpa harus memikirkan apakah besok keluarganya masih memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kisah Adelia menjadi potret yang kontras dengan makna Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli. Peringatan tersebut mengingatkan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh perlindungan, pendidikan, kesejahteraan, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Di balik semarak peringatan Hari Anak Nasional, masih banyak anak bangsa yang harus berbagi waktu antara belajar dan bekerja demi membantu keluarganya. Mereka tetap berusaha meraih cita-cita, meski harus mengorbankan sebagian masa kecil yang semestinya diisi dengan bermain, belajar, dan menikmati kebersamaan bersama teman-teman.
Membantu orang tua merupakan nilai yang patut dihargai. Namun, ketika seorang anak harus memikul beban ekonomi hingga mengurangi haknya untuk menikmati pendidikan dan masa kanak-kanak, keadaan tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Dimulai dari jenjang Keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi.
Bagi Adelia, harapan itu tidak pernah muluk. Ia hanya ingin terus bersekolah, menggapai cita-cita, dan suatu hari nanti mampu mengubah kehidupan keluarganya. Sebuah mimpi sederhana yang seharusnya dapat dimiliki oleh setiap anak Indonesia.
Credit : Muhammad Renanda Pasha, Muhammad Rivanno Atalla, Muiza Syifa
Penulis : Muhammad Rivanno Atalla, Muhammad Raffi
Editor : Ristina Amelia
Design : Rasya Perdana, Rahmah, Rizky Amalia, Zahratu Syifa
Foto Cerita





