Rombongan anak-anak TK YP AR Ceria, Palembang, Selasa (22/7/2025). Foto: Dok. LPM Limas/Vano
lpmlimas.com – Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli sedangkan Hari Anak Sedunia atau World Children’s Day ditetapkan pada tahun 1954 dan dirayakan setiap tanggal 20 November. UNICEF (United Nations Children’s Fund), organisasi yang fokus pada bantuan dan perlindungan anak-anak di seluruh dunia menyatakan bahwa Hari Anak Sedunia adalah hari aksi tahunan oleh anak-anak dan untuk anak-anak. Hari Anak Sedunia merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap hak-hak anak dan pentingnya melindungi mereka dari diskriminasi, eksploitasi, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.
UNICEF menyediakan wadah bagi anak-anak untuk berbagi impian mereka. Pada tanggal 20 November, anak-anak diberi ruang untuk menyuarakan harapan mereka untuk masa depan. Hari Anak Sedunia merupakan kesempatan untuk menghargai keberagaman anak dan kapasitas mereka untuk membangun masa depan yang lebih baik. Singkatnya, tujuan Hari Anak Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kesejahteraan anak di mana pun. Salah satu program dan inovasi yang dapat digunakan untuk memperingati dan mengedukasi Hari Anak Sedunia adalah EKAKOINTEK (Edukasi, Kampanye, Konseling, dan Inovasi Teknologi).
Pertama, istilah ‘edukasi’ dalam EKAKOINTEK mengacu pada Program Pendidikan Keluarga, yang membantu orang tua memahami hak-hak anak, teknik pengasuhan positif, dan cara menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak mereka. Melalui lokakarya, seminar, dan diskusi, orang tua diberi bekal untuk menjadi pelindung utama bagi anak-anaknya. Orang tua dapat melatih cara berinteraksi dengan anak dengan bermain peran (role playing), seperti memberi pujian saat anak berbuat baik atau menanggapi perilaku buruk secara konstruktif. Kemudian, pentingnya untuk membangun lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anak secara fisik dan emosional. Setelah pelatihan, orang tua mendapatkan dukungan lanjutan melalui komunitas diskusi di mana orang tua yang lebih berpengalaman membantu orang tua baru menerapkan praktik pengasuhan yang baik.
Kedua, program kampanye penyadaran publik. Hal ini dicapai dengan memulai kampanye yang mengedukasi masyarakat tentang kekerasan dalam rumah tangga dan dampaknya terhadap anak, serta pentingnya peran keluarga dalam melindungi anak. Salah satu langkah awal dalam meningkatkan kesadaran publik tentang perlindungan anak adalah memulai kampanye media sosial, yang efektif menjangkau masyarakat luas dengan konten edukatif, testimoni, dan infografis. Langkah berikutnya adalah mengadakan sesi penyuluhan dan diskusi di sekolah, balai komunitas, atau rumah ibadah dengan menghadirkan profesional di bidang anak. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi dapat membantu kampanye menjangkau khalayak yang lebih luas. Tahap akhir program kampanye kesadaran masyarakat ini meliputi pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi). Survei, wawancara, dan analisis media sosial dapat digunakan untuk menentukan bagaimana kampanye mempengaruhi kesadaran masyarakat dan memberikan dasar untuk perbaikan di masa depan.
Ketiga, konseling di EKAKOINTEK mengacu pada Layanan Konseling Keluarga; pendekatannya adalah menawarkan layanan konseling kepada keluarga yang bermasalah, menekankan pengembangan ikatan keluarga yang positif dan penyelesaian konflik. Menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan terjangkau dengan melibatkan para profesional terlatih bagi masyarakat merupakan langkah awal dalam mewujudkan konsep ini. Selain konseling, keluarga juga mendapat pelatihan keterampilan menyelesaikan konflik, mengendalikan emosi, dan komunikasi yang efektif. Pelatihan keterampilan komunikasi ini telah terbukti dapat memperkuat ikatan keluarga dan mengurangi konflik. Tahap selanjutnya, menggunakan pendekatan holistik dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya, serta melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses terapi. Terakhir, melalui pemantauan dan evaluasi berkala, kita dapat memastikan layanan konseling tetap relevan dan efektif dalam mencapai tujuannya.
Keempat, definisi inovasi teknologi EKAKOINTEK adalah “inovasi teknologi untuk keluarga.” Hal ini dicapai dengan menciptakan platform atau aplikasi digital yang memberikan orang tua pengetahuan, perangkat, dan bantuan yang mereka butuhkan untuk mendidik dan melindungi anak-anak mereka. Dengan melakukan riset dan analisis kebutuhan bersama organisasi masyarakat sipil dan lembaga pendidikan, aplikasi yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan tantangan nyata yang dihadapi orang tua dalam mendidik dan melindungi anak-anak mereka. Selanjutnya, memulai kampanye pemasaran melalui media sosial, iklan internet, dan kemitraan dengan lembaga pendidikan, badan pemerintah, serta organisasi masyarakat sipil untuk memperkenalkan aplikasi secara luas. Kita juga dapat mengadakan webinar atau seminar untuk memperkenalkan aplikasi kepada orang tua dan memberikan petunjuk penggunaannya. Agar tetap relevan dan efektif, aplikasi perlu dievaluasi secara berkala melalui survei pengguna dan analisis data penggunaan aplikasi. Melalui program ini, orang tua diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam mendidik dan melindungi anak-anak mereka melalui pemanfaatan teknologi.
Penulis: M. Budi Pratama
Editor: Nabila Dwi Lestari
Referensi:
American Psychological Association (APA). (2019). The Impact of Family Conflict on Children.
Berk, L. E. (2018). Development Through the Lifespan. Pearson.
Boulianne, S. (2019). Social Media Use and Participation: A Meta-Analysis of Current Research.
Carr, A. (2006). Family Therapy: Concepts, Process and Practice.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310-357.
Fisher, R. J., et al. (2018). The Role of Community Engagement in Social Change: A Review of the Literature.
Gottman, J. M. (1994). What Predicts Divorce? The Relationship Between Marital Processes and Marital Outcomes.
Harvard University. (2016). The Science of Early Childhood Development.
Hari Anak Sedunia | Perserikatan Bangsa-Bangsa (https://www.un.org/en/observances/world-childrens-day#:~:text=2023%20Theme%3A%20For%20every%20child,worldwide%2C%20and%20improving%20children’s%20welfare.), diakses pada Kamis, 5 Juni 2025, 03.11 WIB.
Lansdown, G. (2011). Every Child’s Right to be Heard: A Resource Guide on the UN Committee on the Rights of the Child General Comment No. 12.
OECD. (2017). Evaluating the Impact of Social Programs: A Guide for Practitioners.
Save the Children. (2018). Child Protection: A Global Strategy.
Save the Children. (2019). Every Last Child: The Role of Families in Protecting Children. Save the Children.
UNICEF. (2020). The State of the World’s Children 2020: Children, food and nutrition. UNICEF.
UNICEF. (2020). The State of the World’s Children 2020: Children’s Rights in the Digital Age. UNICEF.
World Health Organization (WHO). (2018). Health for the World’s Adolescents: A Second Chance in the Second Decade. WHO.
World Health Organization (WHO). (2018). Mental Health Action Plan 2013-2020.