Milisi Boko Haram. Sumber: Cosmos.sns.it
lpmlimas.com – Belakangan ini, terdapat beberapa ancaman di Nigeria yang berseliweran di media sosial dan media-media lain, menuduh konflik yang terjadi di sana sebagai bentuk genosida terhadap umat Kristiani. Menurut Al Jazeera (2025), tuduhan ini dibawa oleh aktor-aktor dari luar negeri yang salah mengartikan konflik domestik di Nigeria sebagai genosida, padahal banyak faktor-faktor lain yang sebenarnya menyebabkan konflik justru terabaikan.
Salah satu figur yang membawa tuduhan ini adalah komedian Amerika yaitu Bill Maher. Dalam salah satu episode gelar wicaranya, ia menyatakan,
“I’m not a Christian, but they are systematically killing the Christians in Nigeria. They’ve killed over 100,000 since 2009. They’ve burned 18,000 churches. These are the Islamists, Boko Haram,”
Lebih lanjut, ia menambahkan, “This is so much more of a genocide attempt than what is going on in Gaza. They are literally attempting to wipe out the Christian population of an entire country.”

Milisi Boko Haram. Sumber: Cosmos.sns.it
Dilansir dari Deutsche Welle (n.d.), Boko Haram sendiri merupakan suatu gerakan militan Islamis yang cukup aktif di kawasan timur laut Nigeria serta negara-negara sekitarnya, seperti Chad, Niger, serta Kamerun. Tujuan utama dari kelompok ini adalah mengganti sistem pemerintahan di kawasan setempat menjadi pemerintahan Syariah Islam.
Namun, bila dilihat lebih dalam, konflik di Nigeria bukan sekedar konflik agama. Akar utama dari konflik tersebut justru berasal dari konflik perebutan lahan subur yang kerap menimbulkan ketegangan antar masyarakat. Dilansir dari Deustche Welle (2025), salah satu contoh nyata dari konflik tersebut terjadi pada Juli 2025 lalu, di mana sekelompok orang menyerbu desa pertanian Yelwata di Benue dan menewaskan sekitar 160 orang. Perebutan wilayah ini menjadi bagian dari konflik yang melanda wilayah sabuk tengah Nigeria yang sebagian besar melibatkan para petani mayoritas Kristen dan kelompok peternak Fulani yang mayoritas Muslim. Hal ini memicu serangkaian serangan dan balasan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun yang kian hari menebalkan kerugiannya. Hal ini kemudian membuat komunitas petani Kristen menyalahkan pemerintah atas ketidakmampuannya dalam menangani konflik ini, serta membentuk dan semakin memperparah rasa tidak percaya mereka pada etnis Fulani.
Mengenai hal ini, sejumlah peneliti dari lembaga kajian pan-Afrika di Good Governance Africa menyebut bahwa akar ketidakamanan di Nigeria bersifat multifaktor, mencakup kegagalan tata kelola, korupsi, kemiskinan, perubahan iklim, pemberontakan, serta kejahatan terorganisir. Karena itu, label “genosida Kristiani” harus dihindari agar tidak menutupi dan mengabaikan faktor-faktor lain yang krusial dalam upaya pencarian solusi dan penyelesaian konflik. Selain menutupi akar masalah yang kompleks, label tersebut justru memperburuk situasi yang ada dengan memperparah intoleransi antaragama dan merusak kerukunan. Promosi terhadap label ini pun mayoritas didorong oleh aktor-aktor luar negeri seperti kelompok advokasi di Barat.

Tangkapan layar beberapa cuitan mengenai tudingan genosida di Nigeria di aplikasi X dan Instagram. Sumber: Tangkapan layar diambil oleh penulis pada Senin (04/11).
Tuduhan-tuduhan seperti ini pada akhirnya justru dapat mengaburkan perhatian masyarakat dunia dari konflik-konflik lain seperti genosida di Gaza. Lebih jauh, tuduhan-tuduhan tersebut bahkan dapat dimanfaatkan oleh aktor-aktor Zionis untuk mengaburkan dan menutupi genosida di Gaza dari perhatian masyarakat global, sehingga jaringan advokasi masyarakat global menjadi tidak sekuat sebelumnya dalam mengintervensi genosida di Gaza. Hal ini kemudian dapat memuluskan upaya Zionis dalam mengambil atau menginvasi wilayah Gaza tanpa gangguan dan tekanan global.
Padahal sejatinya, kedua aksi advokasi ini dapat dijalankan bersama-sama tanpa tumpang tindih dan menimpa satu sama lain. Sehingga proses advokasi transnasional dapat terjadi secara efektif dan semua isu kemanusiaan dapat diperjuangkan tanpa menimpa isu kemanusiaan yang lain.
Penulis: M. Farhan Dunggio
Editor: M. Rafif Al-Farouq Mangkunegara
Referensi:
Kakanda, G. (2025, Oktober 2). No, Bill Maher, there is no ‘Christian genocide’ in Nigeria. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/opinions/2025/10/2/no-bill-maher-there-is-no-christian-genocide-in-nigeria
Deutsche Welle. (n.d.). Boko Haram. https://www.dw.com/id/boko-haram/t-37729287
Jamiu, A. (2025, Oktober 22). Benarkah Tuduhan Adanya “Genosida Kristiani” di Nigeria. Deutsche Welle. https://amp.dw.com/id/benarkah-tuduhan-adanya-genosida-kristiani-di-nigeria/a-74441646