Pernyataan Sikap Aliansi Bem Se-Sumatera Selatan pada akun Instagram @aliansi_bemss, Sabtu (13/06). Sumber: Tangkapan layar oleh Tim LPM Limas.
Palembang, lpmlimas.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Sumatera Selatan akan menggelar aksi pada Senin (22/06). Keputusan tersebut merupakan hasil Konsolidasi Akbar BEM se-Sumatera Selatan pada Jumat (12/06) yang menghasilkan pernyataan sikap berisi sembilan poin tuntutan kepada pemerintah.

Koordinator Aliansi BEM se-Sumatera Selatan, Adrian Dwi Putra, mengatakan konsolidasi dilakukan karena berbagai persoalan nasional dinilai semakin berdampak terhadap masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
“Atas dari inisiatif kawan-kawan lah kita melakukan konsolidasi kemarin karena melihat Indonesia sekarang yang sudah sangat-sangat urgent lah menurut kami, yang dimana dampaknya itu bukan terhadap beberapa orang tapi juga seluruh orang, terutama kaum-kaum menengah ke bawah,” ujarnya saat diwawancarai Tim LPM Limas pada Senin (15/06).
Ia menjelaskan bahwa forum konsolidasi menyoroti sejumlah isu yang dianggap mendesak, di antaranya pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, serta program Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Adrian, sebelum aksi digelar, aliansi sepakat untuk terlebih dahulu melakukan propaganda guna membangun pemahaman publik terhadap isu-isu yang akan dibawa dalam aksi.
“Sebelum kami melakukan aksi tanggal 22, kami ingin melakukan beberapa propaganda. Contohnya kami ingin melakukan mimbar bebas itu di hari Jumat (19/06) sesuai dengan kesepakatan kawan-kawan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa aliansi akan terus mengawal tuntutan yang telah disepakati apabila tidak mendapat respons dari pemerintah.
“Kami akan melakukan aksi terus menerus jika poin tuntutan kami tidak diindahkan,” tegasnya.

BEM Universitas Sriwijaya (Unsri) juga telah mengeluarkan pernyataan sikap terkait berbagai isu nasional yang tengah berkembang di akun Instagram resmi @bemunsriofficial pada Kamis (11/06) .

Tim LPM Limas melakukan wawancara dengan Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda (Akspro) BEM Unsri, Muhammad Faiz Naufal, guna mengonfirmasi keterlibatan BEM Unsri dalam rangkaian propaganda dan persiapan aksi yang akan digelar pada tanggal 22 Juni mendatang pada Selasa (16/06).
“BEM Unsri kemarin [13/06] melalui Forum Jalanan Sriwijaya, kami telah mengadakan unjuk rasa di Car Free Night, di Jalan Kolonel Atmo, Palembang. Dan itu memang dihadiri dari beberapa BEM Fakultas,” Jelas Faiz pada Selasa (16/06).
Menurut Faiz, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi mahasiswa dan masyarakat dalam menyikapi berbagai isu yang tengah berkembang.
“Edaran yang kami sebarkan itu melalui Forum Jalanan Sriwijaya. Kami mencoba untuk menjadikan aksi lebih inklusif,” katanya.
Selain itu, BEM Unsri juga berencana melakukan konsolidasi lanjutan guna mempersiapkan keterlibatan mereka dalam aksi yang akan digelar pada Senin (22/06) mendatang.
“Akan diadakan konsolidasi internal lagi, dari khususnya bidang-bidang pergerakan, mungkin kita bisa bilang Kastrat [Kajian Strategis Ilmiah] dan Akspro, apa yang harus kita persiapkan. Tentu dalam waktu dekat, konsolidasi internal hingga konsolidasi BEM SS mengenai teknis lapangan akan diadakan.” jelasnya.
Faiz menambahkan bahwa pemasifan propaganda dipilih sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran publik terhadap isu-isu yang diangkat sebelum aksi berlangsung.
“Pengambilan sikap dari BEM Unsri, khususnya BEM se-Unsri tentang pemasifan propaganda terlebih dahulu, pemasifan isu terlebih dahulu untuk mencari atensi masyarakat. Tentu bukan tanpa sebab. Kami menilai pergerakan yang progresif, pergerakan yang dimulai dari akar rumput dapat menjadikan atau melahirkan sebuah aksi yang maksimal,” ungkapnya.
Gubernur Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Dimas Satrio Widagdo, mengatakan bahwa inisiatif ajakan konsolidasi se-FISIP ini telah dilakukan sejak Selasa (09/06), sebelum munculnya isu kenaikan harga BBM. Menurutnya, langkah tersebut diambil karena mahasiswa menyoroti kondisi perekonomian nasional yang dinilai mulai memburuk.
“Yang menjadi pemantik ialah bahwasannya kami merasa pada situasi kemarin itu sudah mulai tidak baik-baik saja. Dimana pada saat itu dolar sudah naik, terus juga harga-harga kebutuhan sudah naik, tetapi kami belum melihat adanya pergerakan dari teman-teman lain,” ujarnya pada Senin (15/06).
Dimas menjelaskan bahwa pernyataan sikap yang dikeluarkan BEM FISIP menyoroti sejumlah isu, mulai dari kondisi ekonomi hingga kebijakan pemerintah yang dinilai perlu mendapat perhatian. Selain itu, BEM FISIP juga menyiapkan sejumlah agenda propaganda sebagai bentuk penyebarluasan isu kepada mahasiswa dan masyarakat.
Salah satu agenda yang akan dilakukan ialah turun langsung ke masyarakat untuk mewawancarai kelompok yang terdampak kondisi ekonomi, seperti pengemudi ojek daring, pelaku UMKM, dan masyarakat pasar.
“InsyaAllah besok itu teman-teman BEM FISIP itu mau turun ke beberapa titik masyarakat ya. Ke pasar, ojol-ojol, pelaku-pelaku UMKM untuk menginterview terkait dengan situasi pada hari ini. Nanti interview tersebut akan di up di media BEM FISIP untuk menggambarkan bagaimana yang dirasakan oleh masyarakat secara langsung, bagaimana yang dirasakan oleh masyarakat-masyarakat kecil secara langsung,” jelasnya.
Selain itu, BEM FISIP juga berencana menggelar diskusi publik pada Kamis (18/06) di Taman Kampus Unsri Bukit Palembang. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan bersama BEM Fakultas Ekonomi (FE) dan BEM Fakultas Hukum (FH) dengan menghadirkan akademisi dari masing-masing fakultas sebagai pemateri. Dari FISIP, salah satu narasumber yang telah dikonfirmasi adalah dosen Hubungan Internasional, Ferdiansyah R, S.I.P., M.A.
Dimas menilai bahwa gerakan mahasiswa tidak seharusnya berhenti setelah aksi dilaksanakan. Menurutnya, diperlukan tindak lanjut agar tuntutan yang disampaikan tetap mendapat perhatian.
“Kalau yang saya pahami itu ada yang namanya manajemen tekanan gerakan lah jadi pasca aksi supaya tekanan massa itu tetap berlanjut tetap harus ada kegiatan-kegiatan rutin yang memang bersifat itu simbolik kayak mimbar bebas tapi itu tuh adalah daya tekan terhadap pihak yang dituntut,” tegasnya.
Melalui rangkaian konsolidasi yang dilakukan dari tingkat fakultas hingga Aliansi BEM se-Sumatera Selatan, Dimas berharap tuntutan yang dibawa mahasiswa dapat memperoleh perhatian yang lebih luas.
“Harapannya tuntutan-tuntutan yang kita bawa menjadi sorotan nasional. Bukan hanya menjadi ajang seremonial dan penandatanganan ke DPRD Provinsi Sumsel,” pungkasnya.

Reporter: Imas Putri Salsabila C, Ferlisya Andini, Zahra Nur Safitri, Masayu Mesyah, M. Fajar Meydiansyah, Revina Deanisha Zahra
Penulis: Masayu Mesyah, Zahra Nur Safitri
Editor: Ferlisya Andini