sumber : https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckge4pv4xgzo by : Antara Foto
Besarnya perubahan berbagai lini kehidupan dari masa ke masa, semakin memberikan rentang yang jelas akan adanya kelas sosial di masyarakat. Kelas sosial di masyarakat yang semula didominasi oleh masyarakat kelas menengah atau masyarakat yang merasa “cukup”. Artinya cukup untuk merencanakan masa depan, cukup untuk menabung, ataupun cukup untuk merubah nasib. Namun, saat ini persentase masyarakat kelas menengah mulai mengalami penurunan yang signifikan.
Sebuah laporan dari Institut Mandiri menunjukkan bahwa populasi kelas menengah di Indonesia menyusut dari 47,9 juta pada tahun 2024 menjadi 46,7 juta pada tahun 2025. Kelompok aspiring middle class (AMC) bertambah 4,5 juta orang, menempati 50,4 persen populasi, dan proporsinya turun dari 17,1 persen menjadi 16,6 persen. Artinya, ambang kelas menengah mewakili kehidupan lebih dari 50% orang Indonesia. Kelas menengah semakin menciut akibat banyaknya jenis pekerjaan saat ini semakin tidak menjamin mobilitas. Banyak pekerjaan baru yang bersifat survival-based, sehingga hanya cukup untuk bertahan hidup, belum memadai untuk mendorong terciptanya perpindahan kelas sosial.
Dulu permasalahan kelas sosial dan ekonomi ini dapat diselesaikan dengan membangun sistem pendidikan yang baik. Sehingga, bisa mengantarkan kepada kehidupan yang lebih cerah. Namun, kenyataannya pada saat ini tidaklah semudah itu. Realitanya semakin banyak lulusan bergelar sarjana (fresh graduate) yang tetap hidup dalam kesulitan bahkan bekerja pada bidang yang sangat berbeda dengan gelar yang mereka miliki. Data terbaru pada Tinjauan Tengah Tahun (KTT) INDEF 2025 menyebutkan bahwa jumlah total pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,01 juta adalah lulusan universitas.
Di tengah meningkatnya jumlah lulusan sarjana yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja menyebabkan semakin parahnya persaingan kerja. Masalah sulitnya mencari pekerjaaan di tengah meningkatnya lulusan sarjana ini tidak semerta-merta hanya karena itu, melainkan juga karena sistem pendidikan dan kesiapan individu itu sendiri. Semakin banyaknya lulusan sarjana maka semakin penting untuk seorang individu dapat menunjukan value diri yang tentunya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Perguruan tinggi di Indonesia terus menghasilkan lulusan baru dalam jumlah besar, sedangkan ketersediaan pekerjaan formal tidak mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini menyebabkan persaingan di pasar kerja semakin sengit. Para pencari kerja tidak hanya bersaing dengan lulusan baru lainnya, tetapi juga dengan mereka yang sudah memiliki pengalaman. Alhasil, banyak sarjana harus menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, bahkan berujung bekerja di bidang yang tidak relevan dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari.
Selain masalah jumlah lapangan kerja, terdapat juga ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan industri, yang sering disebut sebagai mismatch. Saat ini, banyak perusahaan yang mencari tenaga kerja dengan keterampilan praktis, kemampuan teknologi, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Namun, masih banyak lulusan perguruan tinggi yang lebih fokus pada pencapaian akademis tanpa dilengkapi keterampilan yang tepat dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja. Dunia industri kini tidak hanya menilai individu berdasarkan ijazah yang dimiliki, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman, kemampuan berkomunikasi, pemecahan masalah, dan keterampilan digital.
Di sisi lain, standar yang ditetapkan oleh perusahaan juga semakin tinggi. Banyak lowongan pekerjaan bagi fresh graduate yang mensyaratkan pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. Persyaratan yang semakin kompleks tersebut menimbulkan paradoks, di mana lulusan baru membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi perusahaan justru menuntut pengalaman sebelum mereka diterima bekerja. Tidak sedikit pula lulusan yang akhirnya dianggap overqualified untuk pekerjaan tertentu, sementara pada posisi lain justru dinilai underqualified karena tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
Faktor lain yang turut memengaruhi sulitnya mencari pekerjaan adalah kurangnya kesiapan individu itu sendiri. Sebagian mahasiswa masih menganggap bahwa gelar sarjana merupakan jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Padahal, perkembangan era digital dan kemajuan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence), menuntut individu untuk terus meningkatkan keterampilan dan kemampuan adaptasi. Kurangnya eksplorasi terhadap kemampuan di luar akademik, minimnya pengalaman organisasi, serta rendahnya kemauan untuk mempelajari keterampilan baru menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan sarjana dalam memasuki dunia kerja.
Apabila ditilik lebih dalam dengan berkembangnya teknologi saat ini, banyak bermunculan peluang-peluang kerja baru yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya, untuk dapat menemukan dan mengambil kesempatan dari kondisi tersebut diperlukan adanya sikap yang lebih proaktif dan rasa keingintahuan yang tinggi. Jika kita telaah lagi, peluang-peluang yang ada selalu beriringan dengan beberapa faktor lain, seperti apakah akses serta informasi terhadap peluang tersebut tersedia bagi setiap individu. Perbedaan kualitas kesiapan kerja yang dimiliki individu tetap menjadi kendala yang cukup besar.
Akhirnya, tantangan dalam menemukan pekerjaan di tengah banyaknya lulusan sarjana merupakan isu yang rumit dan tidak bisa dilihat hanya dari satu perspektif. Masalah ini tidak sekadar diakibatkan oleh jumlah sarjana yang melimpah, tetapi juga dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara pendidikan dengan permintaan di dunia industri, jumlah lowongan kerja yang terbatas, serta kesiapan individu dalam menghadapi perkembangan zaman. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara institusi pendidikan tinggi, pemerintah, dan para mahasiswa untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih baik. Institusi pendidikan tinggi harus menyesuaikan program studi dengan kebutuhan industri, pemerintah perlu mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak, dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan meningkatkan kemampuan serta keterampilan yang relevan.
Sebagai generasi yang akan menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif, mahasiswa tidak dapat lagi hanya mengandalkan gelar akademik sebagai modal utama. Kemampuan beradaptasi, keterampilan praktis, pengalaman, dan kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting untuk dapat bertahan dan berkembang di dunia kerja. Di sisi lain, pembenahan sistem pendidikan dan peningkatan kesempatan kerja juga menjadi tanggung jawab bersama. Jika gelar sarjana tidak cukup untuk menjamin masa depan seseorang, maka pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk dapat bertahan dan berhasil di tengah dinamika dunia kerja saat ini?
DAFTAR PUSTAKA
Admin. (2025). Lulusan Tinggi, Peluang Kerja Menyempit: Potret Pengangguran Indonesia Terkini. (https://tazkia.ac.id/berita/populer/1400-lulusan-tinggi-peluang-kerja-menyempit-potret-pengangguran-indonesia-terkini)
Agungnoe. (2026). Jumlah kelas menengah RI turun, minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan. (https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-kelas-menengah-ri-turun-minimnya-ketersediaan-lapangan-pekerjaan/)
Hafizah, S. (2026). Sarjana Banyak yang Nganggur? Stop Telan Data Mentah-mentah. (https://news.bsi.ac.id/pendidikan/sarjana-banyak-yang-nganggur-stop-telan-data-mentah-mentah/)
Indrayanti, R. (2019). Mismatch Lulusan Pendidikan Tinggi dengan Kebutuhan Sektor Industri: Analisis Data Sakernas. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/336413907_Mismatch_Lulusan_Pendidikan_Tinggi)
Pratiwi, R. A. (2025). Pengangguran Lulusan Pendidikan Tinggi di Indonesia: Dinamika Pertumbuhan dan Ketidaksesuaian Pasar Kerja (2019–2025). Aletheia: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi, 2(2), 85–94. https://doi.org/10.63892/aletheia.2.2025.85-94)
Putra, S. A. (2021). Mismatch Pendidikan Vokasi dan Dunia Industri. Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Kelautan, Perikanan, Teknologi Informasi, dan Komunikasi. (https://kptk.dikdasmen.go.id/artikel/2021/04/13/1138-mismatch-pendidikan-vokasi-dan-dunia industri.html)
Penulis: Susi Ariesta Sari, Ristina Amelia
Editor: Muhammad Vito Rizky Saputra