Sumber : Wikimedia Commons (“2008-08-19 Edinburgh girl studying.jpg”) dan karya Dries Buytaert berjudul “Studying for exams”.
Foto catatan estetik, video belajar di kafe, dan rekaman study timer berjam-jam yang kini membanjiri beranda media sosial adalah fenomena yang dikenal dengan performative studying. Performative studying merupakan kebiasaan belajar yang dilakukan agar terlihat oleh orang lain. Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam praktiknya, proses belajar sering direkam, dipotret, lalu diunggah ke media sosial agar terlihat produktif dan rajin. Namun, cara belajar tersebut belum tentu efektif.
Terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa aktivitas belajar sudah berubah menjadi performatif. Salah satunya ialah anggapan bahwa belajar harus dilakukan di kafe agar terlihat nyaman dan estetik. Selain itu, proses belajar juga dianggap perlu direkam lalu diunggah ke media sosial sebagai bentuk dokumentasi produktivitas. Catatan pelajaran dibuat serapi mungkin dengan berbagai hiasan, penggunaan brush pen berwarna, serta alat tulis khusus yang memerlukan waktu cukup lama untuk dipersiapkan. Banyak pelajar akhirnya terinspirasi oleh akun-akun studytwt dan studygram terkenal yang sering membagikan foto maupun video proses belajar mereka di media sosial.
Lalu, mengapa budaya performative studying dapat memberikan pengaruh buruk bagi pelajar masa kini?
Pertama, orientasi para pelajar mulai bergeser dari pemahaman materi menuju target pembuatan konten. Banyak pelajar lebih tertarik membangun citra sebagai sosok yang rajin daripada benar-benar memahami materi pelajaran. Validasi sosial, pengakuan dari orang lain, tren media sosial, hingga keinginan terlihat pandai membuat sebagian pelajar lebih fokus menghasilkan konten belajar dibanding mengejar nilai maupun pemahaman akademik.
Salah satu contoh yang paling sering ditemukan dalam budaya studytwt ialah penggunaan study timer. Durasi waktu belajar sering dijadikan indikator keberhasilan belajar. Padahal, belajar selama berjam-jam tidak selalu menjamin materi dapat dipahami dengan baik. Ketika durasi belajar dijadikan standar utama keberhasilan, efektivitas belajar justru sering diabaikan. Setiap individu memiliki metode belajar yang berbeda. Ada pelajar yang mampu memahami materi dalam waktu singkat, ada pula yang memerlukan suasana tertentu agar dapat fokus.
Fokus terhadap waktu belajar akhirnya menggeser tujuan utama belajar itu sendiri. Akibatnya, banyak pelajar merasa puas hanya karena telah belajar dalam waktu yang lama. Mereka menganggap dirinya sudah cukup produktif setelah memenuhi target durasi belajar, meskipun pemahaman terhadap materi belum maksimal.
Kedua, akun-akun studytwt terkenal perlahan melahirkan norma baru mengenai cara belajar yang dianggap ideal. Belajar di kafe, merekam proses belajar, membuat catatan estetik, hingga menggunakan metode belajar berbasis durasi mulai dianggap sebagai standar belajar yang efektif. Padahal, metode tersebut belum tentu cocok bagi semua orang.
Setiap pelajar memiliki kondisi, kemampuan, serta gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih nyaman belajar di tempat sunyi, ada yang lebih mudah memahami materi melalui diskusi, bahkan ada yang tidak memerlukan catatan estetik untuk memperoleh nilai tinggi. Namun, budaya performative studying secara tidak langsung menyatukan berbagai pelajar dalam satu standar belajar yang sama.
Tidak sedikit pelajar yang menjadikan akun-akun studytwt terkenal sebagai tolok ukur kesuksesan akademik. Ketika mereka berhasil meniru cara belajar yang ditampilkan oleh akun tersebut, muncul rasa puas karena merasa sudah “setara”. Padahal, banyak pemilik akun terkenal memperoleh prestasi mereka melalui proses belajar yang jauh lebih serius dibanding yang ditampilkan di media sosial. Konten yang diunggah hanyalah sebagian kecil dari proses mereka.
Hal tersebut menciptakan rasa puas yang sebenarnya belum pantas muncul. Pelajar merasa usaha mereka sudah cukup hanya karena berhasil mengikuti pola belajar yang sedang tren, padahal kualitas pemahaman mereka belum tentu berkembang secara signifikan.
Ketiga, budaya performative studying juga mendorong lahirnya kebiasaan belajar yang bersifat konsumtif. Belajar mulai dikaitkan dengan kebutuhan estetika dan gaya hidup tertentu. Kafe menjadi tempat belajar yang dianggap ideal. Alat tulis mahal, highlighter beragam warna, meja belajar estetik, hingga perangkat elektronik tertentu mulai dianggap sebagai bagian penting dalam proses belajar.
Pada akhirnya, belajar tidak lagi dipandang sebagai proses intelektual, melainkan bagian dari citra diri di media sosial. Pelajar terdorong membeli berbagai kebutuhan penunjang demi menciptakan kesan produktif. Budaya tersebut perlahan melahirkan perilaku konsumtif dalam dunia pendidikan.
Fenomena performative studying memang tidak sepenuhnya salah. Beberapa pelajar mungkin merasa termotivasi ketika melihat konten belajar dari orang lain. Namun, ketika tujuan belajar mulai bergeser menjadi pencitraan dan validasi sosial, proses belajar kehilangan makna utamanya. Belajar seharusnya berfokus pada pemahaman, perkembangan diri, dan pencapaian akademik, bukan sekadar terlihat produktif di hadapan orang lain.
Penulis: M. Farhan Dunggio
Editor: Annisa Fathara Atqa Ululalbab